Selasa, 18 Mei 2010

CARCINOMA MAMAE ( KANKER PAYUDARA )

A.PENGERTIAN
                  Ca. Mamae merupakan penyakit keganasan yang paling banyak menyerang wanita., disebabkan karena terjadinya pembelahan sel-sel tubuh secara tidak teratur sehingga pertumbuhan sel tidak dapat dikendalikan dan akan tumbuh menjadi benjolan tumor (kanker).
B.ETIOLOGI
Sebab keganasan pada mamae masih belum jelas, tetapi ada beberapa faktor yang berkaitan erat dengan munculnya keganasan payudara yaitu: virus, faktor lingkungan , faktor hormonal dan familiar;
1.Wanita resiko tinggi dari pada pria (99:1)
2.Usia: resiko tertinggi pada usia diatas 30 tahun
3.Riwayat keluarga: ada riwayat keluarga Ca Mammae pada ibu/saudara perempuan
4.Riwayat meanstrual:
   -early menarche (sebelum 12 thun)
   -Late menopouse (setelah 50 th)
5.Riwayat kesehatan: Pernah mengalami / sedang menderita otipical hiperplasia atau benign proliverative yang lain pada biopsy payudara, Ca. endometrial.
6.Menikah tapi tidak melahirkan anak
7.Riwayat reproduksi: melahirkan anak  pertama diatas 35 tahun.
8.Tidak menyusui
9.Menggunakan obat kontrasepsi oral yang lama, penggunaan therapy estrogen
10.Mengalami trauma berulang kali pada payudara
11.Terapi radiasi; terpapar dari lingkungan yang terpapar karsinogen
12.Obesitas
13.Life style: diet tinggi lemak, mengkomsumsi alcohol (minum 2x sehari), merokok.
14.Stres hebat.
C.  PATOFISIOLOGI  PENYAKIT
Proses terjadinya kanker karena terjadi perubahan struktur sel, dengan ciri : proliferasi yang berlebihan dan tak berguna, yang tak mengikuti pengaruh jaringan sekitarnya. Proliferasi abnormal  sel kanker akan menggangu fungsi jaringan normal dengan menginfiltrasi dan memasukinya dengan cara menyebarkan anak sebar ke organ-organ yang jauh. Di dalam sel tersebut telah terjadi perubahan secara biokimiawi  terutama dalam intinya. Hampir semua tumor ganas tumbuh dari suatu sel yang mengalami transformasi maligna dan berubah menjadi sekelompok sel ganas diantara sel normal.
 D. TANDA DAN GEJALA
1.Terdapat massa utuh kenyal, biasa di kwadran atas bagian dalam, dibawah ketiak bentuknya tak beraturan dan terfiksasi
2.Nyeri di daerah massa
3.Perubahan bentuk dan besar payudara, Adanya lekukan ke dalam, tarikan dan refraksi pada areola mammae
4.Edema dengan “peant d’ orange (keriput seperti kulit jeruk)
5.Pengelupasan papilla mammae
6.Adanya kerusakan dan retraksi pada area puting,
7.Keluar cairan abnormal dari putting susu berupa nanah, darah, cairan encer padahal ibu tidak sedang hamil / menyusui.
8.Ditemukan lessi pada pemeriksaan mamografi

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan labortorium meliputi: Morfologi sel darah, LED, Test fal marker (CEA) dalam serum/plasma, Pemeriksaan sitologis
2.Test diagnostik lain:
a.Non invasive;
-Mamografi
-Ro thorak
-USG
-MRI
-PET
b.Invasif
-Biopsi, ada 2 macam tindakan menggunakan jarum dan 2 macam tindakan pembedahan
- Aspirasi biopsy (FNAB)
-Dengn aspirasi jarum halus , sifat massa dibedakan antar kistik atau padat
-True cut / Care biopsy
-Dilakukan dengan perlengkapan stereotactic biopsy mamografi untuk memandu jarum pada massa
-Incisi biopsy
-Eksisi biopsy
Hasil biopsi dapat digunakan selama 36 jam untuk dilakukan pemeriksaan histologik secara froxen section
F.  KOMPLIKASI
Metastase ke jaringan sekitar melalui saluran limfe (limfogen) ke paru,pleura, tulang dan hati.
G.  PENATALAKSANAAN MEDIS
Ada 2 macam yaitu kuratif (pembedahan) dan paliatif (non pembedahan).  Penanganan kuratif dengan pembedahan yang dilakukan secara mastektomi parsial, mastektomi total, mastektomi radikal, tergantung dari luas, besar dan penyebaran kanker.  Penanganan non pembedahan dengan penyinaran, kemoterapi dan terapi hormonal.
H. CARA PENCEGAHAN
1.Kesadaran SADARI dilakukan setiap bulan.
2.Berikan ASI pada Bayi.
Memberikan ASIpada bayi secara berkala akan mengurangi tingkat hormone tersebut. Sedangkan kanker payudara berkaitan dengan hormone estrogen.
3.jika menemukan gumpalan / benjolan pada payudara segera kedokter.
4.Cari tahu apakah ada sejarah kanker payudara pada keluarga. Menurut penelitian 10 % dari semua kasus kanker payudara adalah factor gen.
5.Perhatikan konsumsi alcohol. Dalam penelitian menyebutkan alcohol meningkatkan estrogen.
6.Perhatikan BB, obesitas meningkatkan risiko kanker payudara.
7.Olah raga teratur. Penelitian menunjukkan bahwa semakin kurang berolah raga, semakin tinggi tingkat estrogen dalam tubuh.
8.Kurangi makanan berlemak. Gaya hidup barat tertentu nampaknya dapat meningkatkan risiko penyakit.
9.Usia > 50 th lakukan srening payudara teratur. 80% Kanker payudara terjadi pada usia > 50 th
10.Rileks / hindari stress berat. Menurunkan tingkat stress akan menguntungkan untuk semua kesehatan secara menyeluruh termasuk risiko kanker payudara.

I. DIAGNOSIS YANG MUNCUL

1.Nyeri akut / kronis b/d agen injuri fisik
2.Risiko infeksi b/d imunitas tubuh primer menurun, prosedur invasive, penyakit
3. PK: Perdarahan
4.Cemas b.d status kesehatan
5.Deficite Knolage b.d Kurang paparan sumber informasi
6.Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d faktor psikologis
7.Sindrom deficite self care b.d nyeri, kelemahan

RENPRA CA. MAMAE


No
Diagnosa
Tujuan
Intervensi
1
Nyeri Akut b/d agen injuri fisik
Setelah dilakukan askep …. jam tingkat kenyamanan klien meningkat, nyeri terkontrol dengan KH:
-klien melaporkan nyeri berkurang, skala nyeri 2-3
-Ekspresi wajah tenang & dapat istirahat, tidur.
-v/s dbn (TD 120/80 mmHg, N: 60-100 x/mnt, RR: 16-20x/mnt).
Manajemen nyeri :
-Kaji nyeri secara komprehensif ( Lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi ).
-Observasi  reaksi nonverbal dari ketidak nyamanan.
-Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri klien sebelumnya.
-Berikan lingkungan yang tenang
-Ajarkan teknik non farmakologis (relaksasi, distraksi dll) untuk mengatasi nyeri.
-Kolaborasi pemberian analgetik untuk mengurangi nyeri.
-Evaluasi tindakan pengurang nyeri/kontrol nyeri.
-Monitor penerimaan klien tentang manajemen nyeri.
-Monitor V/S
-Evaluasi efektifitas analgetik, tanda dan gejala efek samping.

2
Risiko infeksi b/d adanya luka operasi, imunitas tubuh menurun, prosedur invasive
Setelah dilakukan askep …. jam tidak terdapat  infeksi Terkontrol dg KH:
-Bebas dari tanda & gejala infeksi
-Angka lekosit normal (4-11.000)
-Suhu normal  (36-37 c)
Konrol infeksi :
-Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain.
-Batasi pengunjung bila perlu dan anjurkan u/ istirahat yang cukup
-Anjurkan keluarga untuk cuci tangan sebelum dan setelah kontak dengan klien.
-Gunakan sabun anti microba untuk mencuci tangan.
-Lakukan cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan keperawatan.
-Gunakan baju, masker dan sarung tangan sebagai alat pelindung.
-Pertahankan lingkungan yang aseptik selama pemasangan alat.
-Lakukan perawatan luka dan dresing infus,DC setiap hari.
-Tingkatkan intake nutrisi. & cairan yang adekuat
-Berikan antibiotik sesuai program.

Proteksi terhadap infeksi
-Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal.
-Monitor hitung granulosit dan WBC.
-Monitor kerentanan terhadap infeksi.
-Pertahankan teknik aseptik untuk setiap tindakan.
-Inspeksi kulit dan mebran mukosa terhadap kemerahan, panas, drainase.
-Inspeksi keadaan luka dan sekitarnya
-Monitor perubahan tingkat energi.
-Dorong klien untuk meningkatkan mobilitas dan latihan.
-Instruksikan klien untuk minum antibiotik sesuai program.
-Ajarkan keluarga/klien tentang tanda dan gejala infeksi.dan melaporkan kecurigaan infeksi.

3
PK: Perdarahan
setelah dilakukan perawatan …..  jam perawat akan mengurangi komplikasi dari perdarahan dg KH:
-Perdarahan berkurang.
-HB > /= 10 gr %
-Pantau tanda dan gejala perdarahan pada luka / luka post operasi.
-Pantau laborat Hb, HMT. AT
-Kolaborasi untuk tranfusi bila  terjadi perdarahan (hb < 10 gr%)
-Kelola terpi sesuai order
-Pantau daerah yang dilakukan operasi
-Lakukan perawatan luka dengan hati-hati dengan menekan daerah luka dengan kassa steril dan tutuplah dengan tehnik aseptic basah-basah / kering-kering sesuai indikasi
-Pantau keadaan umum secara klinis

4
Cemas b.d status kesehatan
setelah dilakukan perawatan selama ….. jam cemas ps terkontrol dg KH :
-Ps Mengungkapkan cemas berkurang
-Dapat tidur dan rileks
-Pasien kooperatif saat dilakukan tindakan
Penurunan kecemasan
-Bina Hub. Saling percaya
-Libatkan keluarga dalam memberikan dukungan / suport mental dan spiritual
-Jelaskan semua Prosedur tindakan yang akan dilakukan
-Hargai pengetahuan ps tentang penyakitnya
-Bantu ps untuk mengefektifkan sumber support
-Berikan reinfocement untuk menggunakan Sumber Coping yang efektif
5
Deficite pengetahuan tentang penyakit dan perawatannya b.d Kurang paparan thdp sumber informasi, terbatasnya kognitif
setelah diberikan penjelasan selama …. pengetahuan klien dan keluarga meningkat dg KH:
-Ps mengerti proses penyakitnya dan Program prwtn serta Th/ yg diberikan dg:
-Ps mampu: Menjelaskan kembali tentang apa yang dijelaskan
-Pasien / keluarga kooperatif
Teaching : Dissease Process
-Kaji  tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang proses penyakit
-Jelaskan tentang patofisiologi penyakit, tanda dan gejala serta penyebabnya
-Sediakan informasi tentang kondisi klien
-Berikan informasi tentang perkembangan klien
-Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan untuk mencegah komplikasi di masa yang akan datang dan atau kontrol proses penyakit
-Diskusikan tentang pilihan tentang terapi atau pengobatan
-Jelaskan alasan dilaksanakannya tindakan atau terapi
-Gambarkan komplikasi yang mungkin terjadi
-Anjurkan klien untuk mencegah efek samping dari penyakit
-Gali sumber-sumber atau dukungan yang ada
-Anjurkan klien untuk melaporkan tanda dan gejala yang muncul pada petugas kesehatan

6
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d faktor psikologis, biologis ( mual, muntah )

Setelah dilakukan asuhan keperawatan …  jam klien menunjukan status nutrisi adekuat dengan KH:
-BB stabil
-tingkat energi adekuat
-masukan nutrisi adekuat
Manajemen Nutrisi
-Kaji adanya alergi makanan.
-Kaji makanan yang disukai oleh klien.
-Kolaborasi team gizi untuk penyediaan nutrisi TKTP
-Anjurkan klien untuk meningkatkan asupan nutrisi TKTP dan banyak mengandung vitamin C
-Yakinkan diet yang dikonsumsi mengandung cukup serat untuk mencegah konstipasi.
-Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori.
-Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi.

Monitor Nutrisi
-Monitor BB jika  memungkinkan
-Monitor respon klien terhadap situasi yang mengharuskan klien makan.
-Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak bersamaan dengan waktu klien makan.
-Monitor adanya mual muntah.
-Kolaborasi untuk pemberian terapi sesuai order
-Monitor adanya gangguan dalam input makanan misalnya perdarahan, bengkak dsb.
-Monitor intake nutrisi dan kalori.
-Monitor kadar energi, kelemahan dan kelelahan.
7
Sindrom defisit self care b/d kelemahan, penyakitnya
Setelah dilakukan askep … jam klien dan keluarga dapat merawat diri : activity daily living (adl) dengan kritria :
-Kebutuhan klien sehari-hari terpenuhi (makan, berpakaian, toileting, berhias, hygiene, oral higiene)
-Klien bersih dan tidak bau.
Bantuan perawatan diri
-Monitor kemampuan pasien terhadap perawatan diri yang mandiri
-Monitor kebutuhan akan personal hygiene, berpakaian, toileting dan makan, berhias
-Beri bantuan sampai klien mempunyai kemapuan untuk merawat diri
-Bantu klien dalam memenuhi kebutuhannya sehari-hari.
-Anjurkan klien untuk melakukan aktivitas sehari-hari sesuai kemampuannya
-Pertahankan aktivitas perawatan diri secara rutin
-Dorong untuk melakukan secara mandiri tapi beri bantuan ketika klien tidak mampu melakukannya.
-Berikan reinforcement positif atas usaha yang dilakukan.
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar